Gunung Kelud: Mitigasi dari Sebuah Bilik Mungil

Pemerintah telah menaikkan status Gunung Kelud menjadi waspada atau Siaga II. Menurut PVMBG, kenaikan status ini dikarenakan terjadinya peningkatan aktivitas vulkanik dalam perut gunung setinggi 1.731 dpl. Warga yang berada di radius 5 km dari kawah diminta untuk mengungsi. Saat ini adalah kesempatan bagi kita untuk menyimak kesiapsiagaan warga dan pemerintah yang berada di kawasan Gunung Kelud. Salah-satunya melalui pemberitaan-pemberitaan mengenai kesiapsiagaan warga di garis depan Gunung Kelud menghadapi kemungkinan terjadinya erupsi yang semoga saja tidak terjadi. Salah-satunya adalah tulisan yang ditulis Runik Sri Astuti, Wartawan Kompas, yang pernah dimuat pada 22 Juli 2011.

Banyak cara yang dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko bencana atau setidaknya meminimalkan korban. Di rubrik ini sudah pernah dimuat peran handy talkie untuk peringatan dini letusan gunung atau banjir dan tanah longsor. Kali ini masyarakat di lereng Gunung Kelud menggunakan radio komunitas yang dikendalikan dari sebuah bilik.

Dari dalam bilik berdinding tripleks ukuran 1 x 2 meter itu, Soeprapto mengudara. Melalui pancaran gelombang berfrekuensi 97,7 mega hertz, ia menyapa masyarakat di lereng Kelud dengan suara khasnya yang berat.

Beragam informasi terkini mengalir tak terbendung. Mulai dari informasi kegiatan masyarakat di desanya hingga info terkini seputar aktivitas Gunung Kelud yang berstatus aktif normal. Beragam info itu dikemas secara apik, sehingga jauh dari kesan membosankan. Di sela-selanya, ia memutar tembang-tembang populer terbaru yang di unduh melalui internet.

Itulah sepenggal aktivitas di radio komunitas Kelud FM di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Melalui radio inilah, masyarakat di lereng Kelud cepat mendapatkan informasi terbaru tentang aktivitas gunung aktif berbentuk strato itu.

Dengan berbekal informasi tersebut, masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana seperti Desa Sugihwaras yang berjarak kurang dari 10 km dari puncak Gunung Kelud, menyiapkan diri menghadapi bencana letusan dan bencana lain yang mengiringinya.

Meski daya jangkaunya tidak lebih dari 4 km (kilometer), penyampaian informasi yang cepat dan tepat sangat mungkin mampu menyelamatkan ribuan jiwa, yang berpotensi terpapar material letusan. Dibandingkan dengan metode penyampaian informasi konvensional melalui kentongan, jangkauan radio jauh lebih luas.

Apalagi, pada era teknologi canggih sekarang ini, siaran radio bisa diakses melalui telepon seluler, sehingga lebih mobile. Dalam kondisi Gunung Kelud aktif normal seperti sekarang, siaran radio komunitas Kelud FM memang lebih bersifat hiburan.

Siti Umi Hanifah, warga Sugihwaras, mengatakan, manfaat sampingan radio komunitas ini adalah menumbuhkan kreativitas masyarakat dan mencegah generasi muda berkegiatan negatif. Radio komunitas juga menjadi wadah masyarakat untuk bersosialisasi.

Swadaya masyarakat

Pengelola Kelud FM, Soeprapto, mengatakan, radio komunitas berbasis mitigasi bencana ini didirikan tahun 2008, atau beberapa bulan setelah letusan efusi Kelud tahun 2007 yang menghasilkan kubah lava setinggi 250 meter. Ini diilhami oleh kenyataan bahwa saat letusan komunikasi terganggu karena peralatan yang rusak. Jaringan telepon terganggu.

Selain itu, telepon seluler biayanya mahal, dan hanya bisa dilakukan p to p (person to person) atau dari orang ke orang. Satu-satunya komunikasi yang aktif adalah HT (handy talkie), tetapi selain minim penggunanya, jangkauannya juga terbatas.

Belajar dari situ, masyarakat berinisiatif mendirikan radio komunitas yang dianggap sebagai satu-satunya jalur komunikasi yang efektif dan mampu menjangkau banyak khalayak, serta biayanya murah. Sebagai gambaran, untuk membeli sebuah HT diperlukan uang minimal Rp 1 juta, sedangkan untuk siaran radio biayanya tidak sampai Rp 100.000.

Peralatannya terbilang sangat sederhana. Hanya mengandalkan pesawat pemancar kecil rakitan sendiri, serta tiang pemancar dari bambu. Penyiar radionya adalah pemuda setempat. Total saat ini 20-an orang penyiar yang belajar otodidak.

Materi siaran, khusus yang berkaitan dengan aktivitas Gunung Kelud, bersumber dari Pos Pantau Gunung Kelud yang berada di bawah koordinasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung.

Koordinator Jangkar Kelud (komunitas masyarakat peduli bencana Gunung Kelud), Sudharmanto, mengatakan, meski kelihatannya remeh, peran radio komunitas sejatinya sangat vital, karena mampu menjadi ujung tombak sistem peringatan dini. Di samping itu, radio juga menjadi alat sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya sadar bencana.

Saat ini terdapat 34 desa rawan bencana di lereng Kelud yang mengandalkan radio komunitas sebagai sistem peringatan dini. Total ada 13 radio komunitas yang tersebar di tiga wilayah kabupaten ”pemilik” Kelud, yakni Kabupaten Kediri, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Blitar. Di antaranya Sempu FM, Satak FM, Modangan FM, SGB FM, Smart FM, Candi FM, dan Doro FM.

Adapun kegiatan Jangkar Kelud di luar radio komunitas antara lain pemetaan potensi bencana dan daerah rawan, pelatihan tanggap darurat, peningkatan kesadaran masyarakat, penguatan tim siaga desa, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.

Kepala Pos Pantau Gunung Kelud, Khoirul Huda, mengakui keberadaan radio komunitas sangat membantu sosialisasi. Sayangnya, hingga saat ini belum ada kejelasan soal penggunaan frekuensi. Kewenangan itu ada di Balai Monitoring.

Ujung tombak

Kiprah radio komunitas sebagai ujung tombak untuk meminimalkan dampak bencana mendapat pengakuan dari Pemerintah Kabupaten Kediri maupun Provinsi Jawa Timur. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Provinsi Jatim Siswanto mengatakan, sistem peringatan dini berbasis komunitas seharusnya dikembangkan di Jatim.

Selain terdapat tujuh gunung aktif, hampir 38 kabupaten/kota di Jatim memiliki potensi bencana, entah gempa bumi, gunung meletus, banjir, hingga bencana yang disebabkan ulah manusia. Karena itu, kata Siswanto, menjadi penting untuk membangun sistem peringatan dini guna memininalkan dampak bencana.

Masyarakat Jatim sejatinya memiliki kearifan lokal yang bisa dikelola sebagai alat mitigasi bencana, misalnya kentongan, corong masjid, atau sistem getok tular. Salah satu kelebihan kegiatan yang berbasis komunitas adalah terjaga kelangsungannya karena sering dipraktikkan oleh masyarakat.

Kiprah radio komunitas di lereng Kelud juga mendapat apresiasi pemangku kepentingan di pemerintah pusat. Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sugeng Triutomo mengatakan, radio komunitas di Kelud merupakan wujud nyata partisipasi masyarakat. Ia berharap ketangguhan masyarakat lereng Kelud mampu menjadi teladan dan menginspirasi masyarakat lain di daerah rawan bencana di nusantara.

Meski begitu, kesiapsiagaan tetaplah dituntut jika suatu saat Kelud terbatuk-batuk….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s